itawaka, beautiful cottage

itawaka, beautiful cottage

Cari

all about me

jakarta, jakarta, Indonesia
RUDEBOY.....ska, reggae, jazz smpe mampus
Tampilkan postingan dengan label itawaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label itawaka. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2010

Pahlawan dari Itawaka

Komodor : LEONARDUS WILLEM JOHANES WATTIMENA








(Jakarta, 3 Juli 1927 - Jakarta, 18 April 1976) adalah seorang perwira dan penerbang AURI yang terkenal di era 1950-1960-an.

PENDIDIKAN
1. Sekolah Rakyat (1940)
2. SMA (1950)
3. Pendidikan Terbang Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA), California, Amerika Serikat (1950)
4. Pendidikan Instruktur di Royal Air Force (RAF), Inggris (1955)

KARIR
1. Penerbang Skadron 3 Lanud Halim Perdanakusuma (1952)
2. Pimpinan Armada Vampire Skadron Udara 11 Lanud Kemayoran (1957)
3. Instruktur Sekolah Penerbang Lanjutan (SPL) Kalijati (1958)
4. Wakil II Panglima Komando Mandala/Panglima AU Mandala (1958)
5. Panglima Komando Operasi AURI (1963)
6. Panglima Komando Pertahanan Udara (1966)
7. Anggota MPRS (1966)
8. Deputi Operasi Menteri/Panglima AU
9. Duta besar RI di Italia (1969)
10. Staf Ahli KSAU

PESWAT YANG PERNAH DITERBANGKAN
1. L-4J Piper Cub
2. P-51 Mustang
3. de Havilland DH-115 Vampire
4. MiG-17
5. MiG-21

OPERASI TEMPUR
1. Penumpasan Permesta (1958)
2. Perebutan Irian Barat (1962)

CIRI KHAS TIAP KALI TERBANG
1.4x roll kiri pas airborne
2.cruising pake climb power
3.pulang pake sepeda...

Leo Wattimena merupakan salah satu penerbang legendaris P-51D Mustang AURI, pesawat bermesin Packard Merlin V-1650-7 Piston V-12 Engine 1695 hp di tangan seorang Leo Wattimena bagaikan sebuah mainan!

Marsekal Muda (Purn) Leonardus Willem Johanes Wattimena lahir di Jakarta 3 Juli 1927. Ia adalah anak ke empat dari enam bersaudara pasangan dari (HL Wattimena dan UR) Wattimena. Ia bergabung dengan AURI pada usia 23 tahun di tahun 1950. Kemudian ia mendapat beasiswa sekolah terbang di TALOA Amerika Serikat, dan menjadi lulusan terbaik.

Fisik yang dimiliki seorang Leo Wattimena memang sangat ideal bagi seorang penerbang tempur : leher pendek, kekar, dan bertubuh gempal, dengan postur seperti ini biasanya tahan dan mampu berhadapan dengan gaya G yang tinggi.

Leo Wattimena sering melakukan hal-hal yang dianggap kelewat batas dengan P51D Mustangnya, tak heran, ia pun akhirnya banyak mendapat gelar, seperti "Penerbang Gila", "G-Maniac", atau "Pilot Luar Biasa"....

Banyak sekali atraksi "Ugal-Ugalan" yang sering di lakukan beliau, seperti melakukan Roll di ketinggian yang masih rendah, pernah juga ia melewati bagian bawah jembatan Ampera di Palembang dengan mustangnya, terkadang ia juga bermain-main dengan mustangnya dengan melewati dua buah tiang atau gedung!!!

Namun, ia tidak melakukan kegiatan "ugal-ugalan" itu secara sembrono, semuanya ia lakukan dengan latihan dan perhitungan yang amat sangat matang. Seorang penerbang Mustang pernah mencoba gaya terbang "ugal-ugalan" macam beliau itu, namun sang penerbang itu diperingatkan oleh Pak Roesmin Noerjadin (yang juga salah satu legenda P-51D Mustang) agar jangan meniru "orang Gila" itu jika ingin jadi penerbang tempur!

Malang menimpa Penerbang Mustang Letnan I Udara Subagyo, lantaran ia meniru gaya "ugal-ugalan" Leo Wattimena ini, ia pun gugur di lanud Husein Sastranegara Bandung, pesawat Mustang yang di terbangi nya crash dan hancur berantakan di landasan....

Leo Wattimena juga dikenal sebagai orang yang keras dan tempramental, banyak murid penerbang yang ketakutan saat ia menjadi instruktur, hukuman yang diberikan oleh Leo kepada siswanya tidak sekedar push up, cabut bulu kaki atau lainnya, melainkan hukuman nya adalah ikut terbang "ugal-ugalan" bersamanya dan di jungkir balikkan sampai semaput!

Berbagai operasi militer pernah dipimpin oleh Leo Wattimena diantaranya Operasi Nunusaku menumpas PERMESTA pada 15 Mei 1958, Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, DI/TII, Dwikora dan Trikora.
Puncak karir Leo Wattimena sebagai perwira operasi terjadi pada tahun 1961, saat itu ia dipercaya sebagai Wakil Panglima Operasi II Operasi Pembebasan Irian Barat.

Leo Wattimena berhenti dari dinas AURI pada tahun 1971 setelah sebelumnya juga menduduki jabatan sebagai anggota MPRS pada tahun 1966, Panglima Komando Pertahanan Udara pada tahun 1966, Panglima Komandu Operasi Auri pada tahun 1963 hingga Deputi Operasi Menteri/Panglima Angkatan Udara.

Setelah ia pensiun, Leo sempat bekerja di sebuah perusahaan kabel, hingga pada suatu saat ia bertemu dengan KASAU Marsekal (Purn) Ashadi Tjahjadi dan memnintanya menjadi Penasihat Ahli KASAU.
Namun penyakit asma yang mulai dideritanya membuat kondisi kesehatan fisik Leo yang gagah tersebut berangsur menurun. Tubuh ideal penerbang tempur yang dimiliknya lama kelamaan semakin kurus dan hingga akhirnya harus betul2 di topang oleh tongkat.

Leonardus Willem Johanes Wattimena akhirnya meninggal dunia pada 18 April 1976 dan dimakamkan lengkap dengan pakaian penerbang AURI dan dimakamkan berdampingan dengan salah satu legenda mustang lainnya, Komodor Udara (Purn) Ignatius Dewanto di taman makam pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pesawat P-51D Mustang reigtrasi F-303 yang biasa di terbangkan oleh si "Penerbang Gila" ini kini menjadi monumen di depan pintu masuk Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma.




 

Rabu, 04 November 2009

sejarah negeri itawaka...

SEJARAH NEGERI TITIWAKA (asal - usul Negeri Itawaka)

Tita = perintah, Waka = Jaga Titawaka = Perintah jaga.
Bertolak dari perkataan ini, maka jelas dapatlah kami ceritakan sekedar peristiwa yang terjadi, sehingga menimbulkan bukti yang ada (negeri Itawaka) sebagai satu kenyataan dari pada kelanjutan sejarah, yang pernah berlaku sejak datuk-datuk kita di saman purbakala.

Negeri Titawaka dalam perkataan aslinya, telah mendapat perubahan sebutan, sehingga orang tidak lagi, bahkan kurang sama sekali, untuk memperhatikan dan mengembangkan sejarah yang asli. Perubahan sebutan ini bukan baru kemarin terjadi, tetapi sudah ratusan tahun dan perubahan ini, secara sengaja dilakukan sebagai satu-satunya siasat penjajah, untuk menghilangkan pengaruh dari anak-anak bumi putera.

Negeri Titawaka yang sekarang disebut Itawaka, terletak di ujung bagian utara pulau Saparua berdekatan dengan negeri Nolloth.

Adapun kisah sejarah sehinga menimbulkan negeri ini, di mulai dari sebatang air yang kecil dipinggir negeri tersebut, yang mana Air Potang2. Tetapi nama air ini bukan demikian, melainkan sesuai dengan aslinya, yaitu Air Potang2 karena pada air ini ada sebuah batu pangasah parang dari Kapitan Iha.

Alkisah bahwa, jazirah Hatawano berdiri sebuah kerjaan yang ternama yaitu Iha. Kerajaan ini memerintahkan negeri-negeri disitu termasuk negeri Tuhaha, dan tentu bagi negeri yang tunduk dibawah perintahnya, harus turut segala persyaratan yang diberikan, apalagi di saat-saat berkuasanya kerajaan ini.

Penjajah asing sudah dan mulai menanamkan pengaruhnya. Sedangkan sikap dan sifat-sifat hidup datuk-datuk kita. Bukan hanya berlaku di Iha, tapi pada umumnya bagi seluruh penduduk Maluku memiliki sifat dan sikap hidup yang sama, yang kemudian menjadi dasar pertentangan yang hebat, antara datuk-datuk kita dengan bangsa-bangsa kulit putih ini. Ditambah pula bahwa bangsa-bangsa penjajah ini, memakai politik pecah belah sebagai pintu masuk, untuk menanamkan maksud dan keinginan jahatnya, yaitu ingin menundukan semua kuasa yang ada pada waktu itu de Maluku, untuk hanya tunduk dibawah suatu kuasa yaitu perintah Belanda.

Bagi datuk-datuk kita yang mempunyai sifat kesatria, artinya tidak mau tunduk pada siapapun, bagi mereka benar-benar merupakan satu tentangan hebat.

Adanya perbedaan-perbedaan paham yang tidak diselasaikan oleh kedua belah pihak, mengakibatkan timbulnja peperangan-peperangan yang tentu membawa banyak penghorbanan.

Peperangan-peperangan mana tentu terjadi antara datuk-datuk kita dengan orang kulit putih, dan juga dengan suku bangsa kami sendiri yang ingin menjadi penghimat. Satu peperangan yang benar hebat, sehingga mendatangkan banyak penghorbanan, adalah Kerajaan Iha disaat itu, dengan saudara-saudara kita dari negeri Nolloth. Apa asalnya sehingga mengakibatkan permusuhan yang begitu hebat, tidak kami di tunjukan dengan nyata. Tetapi menurut penjelasan tua adat kami bahwa negeri yang mula-mula menempati jazirah adalah ini Iha dan Tuhaha. Dengan penjelasan ini berarti kami dapat menarik kesimpulan bahwa negeri Nolloth tentu terjadi kemudian. Artinya terjadinya imigrasi penduduk Seram ke pulau-pulau lain, dan ditambah pula masuknya pengaruh-pengaruh barat, yang turut mengambil bagian didalam kesempatan ini, untuk lebih mempengaruhi penduduk asli agar dapat menanamkan kuasanya.

Jadi didalam soal ini tidak dapat kami menyangka bahwa siapa sebenarnya yang membuka pintu kepeda Belanda untuk turut menuntuhkan kekuasaan Kerajaan Iha. Tetapi bagi kerajaan Iha sendiri mungkin asa faktor-faktor negatif dari negeri-negeri yang lain. Contoh yang dapat kami nyatakan sesuai dengan perkembangan sejarah, seperti negeri saudara kita (Tuhaha) yang membuka jalan kepada Belanda, untuk menyuruh menembak benteng Kerjaan Iha, dengan memakai peluru tercampur tulang babi, sehingga kota benteng in hancur lebur hingga tentara kerajaan Belanda dapat kemudian mengalahkan seluruhnya.

Mungkin faktor-faktor lain yang sama dengan diatas ada juga pada negeri Nolloth, sehingga dengan faktor-faktor ini membawa bibit kebencian yang cukup kuat bagi kerajaan Iha. Apalagi sebagai orang-orang asli mereka (kerajaan Iha) tidak senang hak milik mereka jatuh ke tangan para pendatang, sehingga dengan persoalan-persoalan ini menibatkan pembunuhan-pembunuhan ini bukan hanya satu kali terjadi, tetapi sering dan terus menerus sehingga memusingkan kepala pemerintahan Blanda. Sedangkan pemerintah Belanda didalam cara politiknya, mereka berusaha untuk menarik perhatian penduduk, guna menanamkan seluruh kepercayaan rakyat kepada mereka. Maka setiap ada persoalan mereka berusaha menatasinya, sehingga bagi masyarakat Maluku mereka dapat dianggap sebagai orang baik-baik.

Disamping itu satu-satunya cara dari politik Blanda untuk masuk dan menghancurkan seluruh benteng pertahanan rakyat Maluku di bidang apapun yaitu melalui agama. Artinya dengan jalan agama maka datuk-datuk kita dapat melihat den mengatahui, syarat-syarat hidup orang percaya untuk datang mendapatkan Tuhan Allah, karena agama melarang jangan membunuh, jangan mencuri d.l.l.

Dihadapan datuk-datuk, Belanda seolah-olah menujukan kejujuran, tetapi dibelakan arus politiknya hidup mereka laksana kuburan berlabur putih. Sifat-sifat inilah yang sangat ditentang oleh datuk-datuk kita, sehingga siapa diantara masyarakat kita yang termasuk jalur ini, dianggap sebagai penghianat, dan kemudian mengakibatkan timbulnya peperangan dan pembunuhan.

Seperti yang terjadi sehingga berdirinya negeri Titawaka, perkelahian dan pembunuhan makin menghebat, sedangkan usaha pemerintah Belanda untuk mengatasinya selalu sia-sia.

Didalam usaha mencegah peperangan ini serta pembunuhan oleh pemerintah Belanda telah diusahakan bantuan dimana-mana, dengan jalan meminta bantuan ke negeri Paperu, sehingga sepasukan pemuda yang bersenjata datang ke Nolloth sekarang ada sebuah perigi yang bernama Lawata.

Pemerintah Belanda meminta bantuan dari negeri Tuhaha. Dengan melihat sikap pemerintah Belanda maka kerajaan Iha makin mengganas, setiap perlawanan tidak dapat diatasi maka akibatnya pemerintah Belanda memeriksa tapal batas bahwa tempat dimana terjadi pembunuhan adalah termasuk tapal batasnya negeri Ullath.

Ingat perjanjian tiga datuk untuk menentukan TIGA TAPAL BATAS di dusun Sole negeri Italili.

Untuk memenangkan persoalan ini, maka pemerintah Belanda merendahkan diri dengan menunjukan rasa persahabatan terhadap siapapun.

Dengan jalan ini pemerintah Belanda tentu berpura-pura tunduk kepada pemerintah Italili (moyang Pattibeilohy) supaja mohonkan sokongan bantuan pemerintah Italili untuk memberikan orang-orangnya guna membuat penjagaan tempat ini.

Oleh tua adat negeri Ullath diterangkan, bahwa pemerintah Belanda memeriksa tempat pembunuhan, dan ternyata tempat ini adalah petuan negeri Ullath. Berarti perjanjian tiga datuk di Italili untuk menentukan perbatasan ketiga negeri IHA – TUHAHA – ULLATH, bukan hanya berbatas pantai sebelah timur dan di tengah hutan batas dengan Tuhan dan Iha dan tentu dipantai sebelah juga berbatas dengan Iha, dimana terdapat negeri Itawaka sekarang.

Tetapi segala perbatasan ini menjadi rusak sewaktu hancurnya Iha dan atas tindakannya pemerintah Belanda sehingga tanah-tanah miliknya diberikan kepada kampung-kampung pendatang dan satu hal yang penting yaitu: seperdua dari tanah petuanan negeri Ullath sekarang, maka hanyalah Ullath berbatas dengan Tuhaha dan Itawaka sedangkan disebalah lain Itawaka berbatas dengan Nolloth dan Iha, mengapa??? Sebab sebagian dari milik negeri Ullath sudah diberikan menjadi milik negeri Itawaka sekarang.

Jadi seandianya tidak ada negeri Itawaka, maka tentu sampai kini dan selamanya asal matahari masih ada, memang negeri Ullath tetap berbatas dengan Iha dan Tuhaha, karena janji tiga datuk.

Sesudah pemerintah Belanda didalam perundingannya dengan Latu Italili moyang Pattibeilohy dan hasil perundingannya memuaskan, artinya negeri Ullath dapat de memberikan bantuan, untuk memberikan penjagaan pada tempat pembunuhan, maka tentu oleh Latu Italili terlebih dahulu harus membuat perindungan sendiri dengan rakyat, karena perpindahan ini bukanlah satu soal yang gampang. Sebab pergi mengadakan penjagaan pada tempat pembunuhan, berarti mereka ini juga siap untuk selalu berperang, kalau tentara Kerajaan Iha turun menyerang, sebab mereka ini ditempatkan pada garis depan sebagai pasukan pengamanan.

Juga ada faktor-faktor lain yang agak menyulitkan perpindahan ini, sebab pergi dengan tidak kembali (pergi untuk menetap), di lain pihak persekutuan hidupnya datuk-datuk kita disaat itu sangat erat, sehingga sukar sekali orang pergi meninggalkan kampung halamananya dan terpisah dari kaum keluarganya untuk selama-lamanya.

Tetapi moyang Pattibeilohy adalah satu pemerintah yang sangat bijaksana, sehingga jikalau Pattibeilohy hanya menurut kekuasaannya, maka dapat menimbulkan kecacauan dipihak rakyat karena orang-orang tidak mau pergi.

Untuk menarik hati mereka, maka ditengah-tengah 24 kepala keluarga disaat itu, lalu Pattibeilohy menunjuk seorang diantara keluarganya sendiri sebagai contoh dan Beliau inilah yang menjadi kepala rombongan untuk membawa mereka keluar dari negeri Italili ke tempat pembunuhan tadi. Tentu beliau yang telah ditunjuk oleh pemerintah Italili ini, tidak dapat bergerak sendiri apabila tidak ada orang lain yang membantunya, sebab itu bersama dengannya juga dua kepala keluarga dan orang-orangnya yang mau menghormati perintah raja, untuk turut menjadi rombongan Titawaka.

Diantara dua kepala keluarga tadi yaitu keluarga Litamahuputih (Litamaputia), sebab Litamahuputih ini adalah malesi dari Kapitan Lusikooy. Jadi berarti bahwa sewaktu berpindahan in maka Litamahuputih ditugaskan sebagai kapitan untuk mengawasi dan menjaga keselamatan rombongan.

Pemerintah Italili moyang Pattibeilohy sendiri telah mengatahui, bahwa kepergian mereka untuk tidak kembali lagi. Maka demi untuk menjaga kemungkinan dibelakang hari, supaya jangan sampai terjadi perang diantara orang saudara sendiri, maka Pattibeilohy yang menjadi kepala rombongan disaat itu namanya diganti menjadi PATTIPELAYA = Pattipeilohy berlayar atau Pattipeilohy yang telah keluar.

Lalu berangkat mereka menurut perintah yang harus dijalankan untuk membikin pos ditempat pembunuhan. Perintah untuk jaga dalam bahasa aslinya disebut: TITAWAKA.

Rombongan Titawaka ini dikepalai oleh moyang Pattipelaya kemudian pergi untuk menjaga keamanan pada tempat pembunuhan di kaki air potong-potong, yang dilakukan oleh orang-orang Iha terhadap siapapun yang dianggap mengkhianati mereka. Selah rombongan Titawaka ini tiba pada tempatnya, tentu mereka tidak tinggal diam melainkan menjalankan perintah dari pemerintah Italili, yakni memperkuat pos-pos penjagaan supaya jangan lagi terjadi pembunuhan. Tentu oleh orang-orang negeri Iha, bagi mereka ini adalah suatu kegagalan sebab yang datang menempati tempat pembunuhan ini bukanlah orang lain melainkan saudara sendiri.

Disini dapat kita lihat dan tarik kesimpulan, sebab sewaktu-waktu saudara-saudara kita dari Iha luas dapat membuka batas-batas pergerakkannya, maka Belanda lebih luas dapat membuku daerah politiknya yaitu: mendatangkan bantuan dari segala pihak oleh anak-anak bangsa sendiri untuk lebih memperkecil daerah kekuasaan kerajaan Iha.

Setelah saudara-saudara kita dari Iha agak lumpuh didalam daya geraknya, sebab Belanda memakai tenaga dan kekuatan bangsa sendiri sebagai benteng bagi mereka, maka dibelakang bentang inilah Belanda dapat melumpuhkan semua kekuasaan bangsa kita satu demi satu. Sebab anak-anak kita didalam ketidak sadarnya, mereka menyangka telah melakukan satu tugas suci, tetapi sebaliknya mereka tidak tahu bahwa didalam soal ini adalah saudara makan saudara sendiri. Karena sewaktu tempat pembunuhan telah mendapat pengawasan tekat, maka saudara-saudara kami dari Iha tidak dapat lagi bergerak.

Disamping Belanda memakai tenaga-tenaga dari negeri Paperu untuk beroperasi. Negeri Paperu dibawa pimpinan dua Kapitannya yang ternama kakak beradik Kapitan Sopamena: Kamalau dan Taratara, sehingga oleh kekuatannya bangsa sendiri kerajaan Iha menyerah kalah.

Sekarang dapat kita ketahui Belanda punya tipu muslihat, artinya sesudah segala keperkasaan datuk-datuk kita ditundukan dengan jalan bujuk atau ditindas maka dengan sendirinya, kendaraan politik Belanda dapat berjalan dengan luas.

Melalui agama dan pendidikan bangsa kita diberi pelajaran akibatnya, yang mau masuk Kristen hilang adat hilang bahasa, sehingga dalam jangka waktu yang begitu panjang kami menjadi alat bagi Belanda.

Belanda Iha hancur lebur, Belanda maju tanpa mundur. Disini Kapitan Iha ditewaskan, segala pertahanannya hancur berantakan dan sisa dari pada rakyatnya yang tidak mau tunduk pada permerintah kolonial Belanda bersama-sama dengan Kakak yang tua (Kasim), lalu lari meninggalkan Iha dipulau Saparua, menuju Seram di negeri Luhu karena satu asal mereka juga Nunusaku sejak dahulu.

Menurut tuturan dari satu orang di negeri Iha, yang sekarang menurut panggilan umum Iha-Luhu, bahwa sejak hancurnya kerajaan Iha, maka mereka yang mau tunduk kepada Belanda masuk Kristen. Sedangkan sisa sepuluh keluarga yang tidak tunduk, lalu lari dan mengambil tempat di negeri Iha yang berdekatan dengan Luhu sekarang.

Sesudah kerajaan Iha ditundukan dengan kekerasan dan negeri-negeri lainnya diturunkan ke pesisir pantai dengan bujukan berarti setengah dari perjalanan politik Belanda hampir tercapai.

Untuk menghilangkan segala bekas, yang dapat membuktikan semua kekejaman Belanda tadi, maka segala kebenaran diputar balikkan, untuk dihilangkan dari permukaan bumi sejarah seperti yang terbukti: PATTIPELAYA dirubah menjadi PAPILAYA. Titawaka menjadi Itawaka. Air Potong-potong menjadi Air Potang-potang.

Sisa dari rakyat Iha yang mau masuk Kristen disebut Iha Mau, tetapi diganti oleh Belanda menjadi Ihamahu. Dan Iha yang berpindah dari kerajaan Iha Saparua ke Seram dekat Luhu disebut Iha-Luhu.

Kesemuanya ini adalah hasil usaha bujukan penjajah untuk lebih memikat hati masyarakat dan bangsa kita, sehingga 350 tahun lamanya kita menjadi tenaga bayaran kerajaan Belanda. Tenaga-tenaga bangsa kita dijadikan kuda tunggang dan benteng bagi Belanda dimedan pertempuran, supaya dibelakang benteng ini Belanda dan berlindung dan terpelihara, diwaktu peperangan banyak kepala dan jiwa anak bangsa kita menjadi tebusan, yang hidup disiksa dalam penjara akibatnya kita dibawa terpisah jauh dari Ibu-Bapak, Sanak dan Saudari


info lebih lanjut: www.angelfire.com/home/SiAPAPorto/titiwaka